Lahir 17 Agustus 1945, Nenek Asal Inobonto Ini Seumur Kemerdekaan RI

0
1080

BOLMONG,DETOTABUAN.COM – Jumat, 17 Agustus 1945, merupakan hari sakral bagi seluruh rakyat Indonesia. Pasalnya, tepatnya dihari itu, Presiden dan Wakil Presiden Pertama Indonesia Soekarno dan Bung Hatta, resmi memproklamirkan kemerdekaan bangsa ini.

Sejak saat itu, tanggal 17 Agustus, resmi ditetapkan sebagai hari kemerdekaan dan diperingati oleh seluruh rakyat Indonesia, mulai dari Sabang sampai Merauke.

Menariknya, ditengah tengah peringatan HUT RI ke 74 tadi, ternyata ada seorang Nenek yang juga merayakan Hari paling bersejarah itu, dia adalah Rohanna Abbas.

Warga Kelurahan Inobonto, Kecamatan Bolaang itu ternyata lahir tepat tanggal 17 Agustus 1945. Kini, Rohanna memiliki usia yang sama dengan HUT kemerdekaan RI, yakni 74 Tahun.

“Menurut cerita Almarhum Ayah saya, saya tak lahir dirumah, namun lahir di dalam Goa yang ada di sekitar Gunung Ambang,” kata Rohanna mengawali ceritanya.

Kemungkinan kata dia, orangtuanya bersama warga lain, saat itu mengungsi karena takut dengan serangan Udara tentara Jepang.

Namun, sesaat setelah kelahirannya, orang orang mulai menurunkan bendera Jepang dan menggantinya dengan bendera merah putih.

“Kalau mendengar cerita Almarhum Ayah saya, kemungkinan, saya lahir sebelum pembacaan proklamasi oleh Presiden Soekarno,” sebutnya.

Diusia yang ke 74 tahun ini, Rohanna mengaku sangat bersyukur, selain karena masih diberikan umur dan kesehatan oleh Allah SWT, ia bangga memiliki keluarga yang sangat menyayanginya.

“Alhamdullilah, masih diberikan umur panjang, kesehatan dan keluarga yang sangat menyayangi saya, itu sebuah anugerah yang tak ternilai,” tutupnya.

Kartu Keluarga Milik Rohanna, tertera tanggal lahir 17 Agustus 1945

Diketahui, Rohanna merupakan anak bungsu dari 3 bersaudara, Ayahnya Almarhum Anani Abbas berasal dari Gorontalo, sedangkan Almarhumah Ibunya Hapsa Mokodompit, adalah warga Kobo besar.

Saat ini Rohanna telah memiliki 7 orang Cucu, dan 2 orang Cicit, salah satunya diberi nama Muhammad Gibran Nurhamidin.

(Redaksi detotabuan)