Sengaja Lakukan Pembakaran Hutan dan Lahan, Siap-siap Diproses Hukum

0
113
Istimewa

BOLMONG,DETOTABUAN.COM Kesadaran masyarakat Bolaang Mongodow (Bolmong) untuk menjaga kelestarian hutan dan lahan, dinilai sangat memprihatinkan. Meski upaya pemerintah terus mengimbau supaya tidak melakukan pembakaran hutan dan lahan dengan sembarangan, hal itu tampaknya tak diindahkan.

Musim kemarau disertai angin selatan sampai saat ini masih terus melanda Kabupaten Bolmong, khususnya wilayah pesisir Pantai Utara (Pantura) Bolmong. Sebabnya, pemerintah meminta supaya tidak membakar lahan untuk kepentingan berkebun apalagi tanpa pengawasan yang ketat.

Tak hanya itu, tidak membuang rokok masih dalam keadaan menyala juga dimimnta untuk terus diperhatikan. Para ibu-ibu yang masih menggunakan kayu bakar untuk terus memastikan api sudah mati usai melakukan aktivitas memasak makanan, pun mereka yang sudah menggunakan gas.

Kondisi cuaca yang panas dan angin kencang yang melanda Bolmong ini, sangat berpotensi terjadi kebakaran. Meski sumber api sebelumnya kecil, bisa menjadi besar dengan cepat. Bisa-bisa sampai ke pemukiman warga.

Di Kabupaten Bolmong sendiri, selama sepekan terakhir sudah terjadi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla), sedikitnya lima kali kejadian. Hal ini tidak bisa dianggap enteng dan harus menjadi perhatian serius bersama. Apalagi, dugaan semengtara Karhutla itu terjadi, ada unsur kesengajaan dari oknum yang tidak bertanggungjawab.

BACA JUGA: Kebakaran Lahan di Desa Tuyat Meluas dan Ancam Pemukiman Warga

BACA JUGA: Musim Kemarau dan Angin Selatan, Waspada Terjadi Kebakara

BACA JUGA:Pekan Ini Empat Lahan dan Hutan di Bolmong Terbakar

BACA JUGA: Kebakaran Hutan Kembali Terjadi di Lolak, Diduga Dilakukan Oknum Tak Bartanggungjawab

“Sangat dibutuhkan kesadaran masyarakat. Meski itu kadang lahan kebun milik sendiri, harus berhikmat ketika melakukan pembakaran, akhirnya saat nyala api menyebar dengan cepat ke lahan yang lain, pelaku pembakaran sudah tidak bisa memadamkan api karena sudah terlalu besar,” ungkap Yunita Papising warga Dumoga.

Menurutnya, kajadian Karhutla lima kali dalam waktu se pekan, itu sudah tidak warjar. Bisa-bisa sudah ada unsur kesengajaan oleh oknum tak bertanggungjawab. “Selain pengawasan yang ketat, pemerintah sudah harus menyelidiki siapa pelakunya dan memberikan efek jera supaya tidak terulang lagi pembakaran susulan,” pintanya.

Seperti diketahui, saat ini pemerintah pusat menaruh perhatian yang penuh terhadap bencana Karhutla yang terjadi di beberapa daerah di Indonesia.  Dalam Rakornas Karhutla tahun 2019 di Istana Negara, Selsa (6/8) lalu, Presiden Joko Widodo memberikan instruksi untuk penanganan Karhutla yang disebut strategi pengendalikan Karhutla.

Instruksi Presiden Joko Widodo yakni, prioritas pencegahan, patroli terpadu, deteksi dini, dan monitoring rutin, penataan pengelolaan ekosistem gambut secara berkelanjutan, pemadaman segera terhadap titik api yang muncul, serta penegakan hukum bagi pelaku pembakaran hutan dan lahan.

Terkait masalah tersebut, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bolmong, Haris Dilapanga mengatakan pihaknya juga terus memberikan pemahaman kepada masyarakat terkait hal ini.

“Untuk beberapa wilayah kajadian Karhutla ini kita masih dalam penyelidikan dengan berkoordinasi dengan kepala desa setempat, karena kepala desa lebih tau siapa pemilik lahan yang terbakar itu. Tak hanya itu, kita akan berkoordinasi dengan aparat dalam hal ini Polsek setempat untuk mengungkap oknum pembakaran lahan ini.” jelasnya.

Sementara itu, Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Bolmong Tahlis Gallang mengaku geram dengan pembakaran hutan dan lahan yang diduga dilakukan oleh oknum tak bertanggungjawab. Menurutnya, jika ada kedapatan pelakunya langsung diproses secara hukum.

“Kita masih dalam penyelidikan dan bekerja sama dengan pihak kepolisian. Kalau kedapatan tentu akan diproses hukum. Selalu diberikan peringatan dengan  kondisi musim kemarau dan angin selatan seperti ini sangat rentan terjadi kebakaran, masih saja melakukan pembakaran. Saya meminta supaya ada kerja sama yang baik untuk sama-sama menjaga agar hal seperti ini tidak terjadi lagi,” tegas Gallang. (Ind)