Air Terjun Pomoman, Surga Tersembunyi di Kabupaten Bolmong

0
276
Destimasi Wisata Air Terjun Pomoman. (Foto: Ist)

BOLMONG,DETOTABUAN.COM– Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong) dikenal sangat kaya akan sumber daya alam (SDA). Daerah ini, juga merupakan daerah yang menyimpan banyak keindahan alam dan pantai.

Maka bukan rahasia lagi jika Kabupaten ini memiliki surga tersembunyi yang bisa dijadikan sebagai destinasi wisata unggulan. Salah satunya Air Terjun Pomoman, yang terletak di Desa Pomoman, Kecamatan Poigar, Kabupaten Bolmong, Sulawesi Utara (Sulut).

Desa ini memang terpencil dan jauh dari keramaian kota. Namun, jika dikembangkan, petensi wisatanya diprediksi akan banyak menarik minat para wisatawan untuk berkunjung.

Salah satu air terjun yang belum terekspose dan belum banyak tersentuh oleh manusia. Air terjun yang tak kalah menarik keindahannya dengan air terjun di daerah-daerah lainnya.

Lokasi air terjun tersebut masih terbilang “perawan” karena terletak di balik hutan dan tebing yang menjulang. Untuk bisa menembus ke lokasi air terjun ini, membutuhkan perjuangan ekstra.

Jarak yang ditempuh mencapai 13 Km terhitung dari titik nol Desa Mondatong, tepatnya di Jalan Amurang Kotamobagu Doloduo (AKD). Salah satu destinasi wisata tersentuh oleh pemerintah, dikarenakan menuju lokasi tersebut tergolong sulit.

Menyusul belum juga diketahui oleh banyak wisatawan. Air terjun Pomoman ini, masih sangat alami dan terjaga kelestariannya. Dengan memiliki beberapa tingkatan, di sebelah kiri merupakan air terjun paling panjang sekitar 30-an meter. Sementara di sebelah kanan memiliki tiga tingkatan.

Udara sekitar yang masih asri dan memiliki air jernih. Sayang jika tak dikunjungi, apalagi mereka yang hobi mengabadikan foto. Tentu juga bisa menghilangkan kepenatan bagi mereka yang punya banyak kesibukan kerja.

Sebenarnya air terjun ini cukup dekat, tetapi medan yang sulit serta harus melewati sedikitnya delapan anak sungai, itu menjadi tantangan tersendiri.

Untuk melewati jalur ini harus menggunakan kendaraan yang telah dimodifikasi khusus di jalan ekstrim. Warga setempat menyebutnya Rambo, itulah alat tranportasi andalan warga desa, untuk melewati jalan yang berliku dan menanjak juga bebatuan dan jurang yang terjal harus ekstra hati-hati melewatinya.

Sampai di Desa Pomoman, pengunjung harus melewati jalur ektrim hingga mencapai kemiringan 80 derajat. Memang, air terjun ini hanya berada di belakang kampung, sekitar 100 meter saja sudah sampai. Namun jalan menuju lokasinya mebutuhkan waktu sekitar 30 menit, apalagi jalan yang curam dan licin tentunya bisa membahanyakan pengunjung jika tidak berhati-hati.

Meski cukup menantang, semua akan terobat dengan keindahan air terjun di sana. Secara alami, air terjun itu membentuk sebuah kolam kedalaman sekitar 4 meter. Didukung juga dengan pemandangan alam sekitar yang dikelilingi dengan hutan dan pepohonan, serta tumbuhan hijau sehingga sangat sedap untuk dipandang.

Salah satu warga desa mengatakan, tempat yang masih alami ini butuh sentuhan pemerintah untuk dapat meningkatkan pendapatan daerah dengan potensi wiasata yang ada.

“Di sini ada banyak potensi wisata, selain air terjun ada juga air putih dan air panas. Yang utama itu harus jalan dulu. Kalau akses jalan sudah bagus pasti banyak yang berkunjung supaya desa kami kedepan ramai dikunjungi wisatawan lokal maupun luar daerah,” kata Hengky warga setempat, Selasa (23/06/2020).

Sekadar diketahui, dikutip dari http://pomoman.sideka.id/profil/sejarah/ Kabupaten Bolaang Mongondow, sejarah Desa Pomoman. Dahulu kala, desa ini hanyalah sebuah lokasi perkebunan masyarakat Bulud, semenjak ada kejadian bencana alam yang terjadi Longsor di Rerer dan Banjir di Tondano, departemen social membebaskan resettlement utuk dijadikan lokasi pemukiman BKBA atau Bantuan Keluarga Bencana Alam.

Kemudian pada saat KBA (Rerer) datang ke lokasi untuk memeriksa, mereka menolak pemukiman ini untuk ditinggali. Pada tanggal 24 maret 1983 merupakan awal masuknya pemukiman di desa Pomoman yang sebelumnya disebut dengan nama “Pomomaan” artnya tempat persinggahan/istirahat para petani untuk makan. Kemudian diterjemahkan ke Bahasa Indonesia dengan ejaan terbaru kemudian menjadi “Pomoman”.

Sebelum menjadi desa definitif jumlah pemukim sebanyak 195 kepala keluarga, 195 kepala keluarga ini berasal dari beberapa tempat yaitu; Roong, Talour, Kiniar, Sisipan, Bulud dan Poigar. Fret Tampi ditunjuk pemerintah sebagai Koordinator pertama, Koordinator kedua Wahid Mokoginta, Koordinator ketiga Joutje Kawet, Koordinator ke empat Joutje Kasakean.

Desa Pomoman diresmikan sebagai desa definitive dengan No. Kode 71-02.15.2008 pada tanggal 25 Maret 1994 berdasarkan SK Gubernur KDH. TKT.I Sulawesi Utara No.411 tahun 1993 tanggal 30 Desember 1993 yang di tandatangani Gubernur Sulut C.J. Rantung. Kepala Desa (Sangadi) pertama Desa Pomoman adalah Joutje Kasakean. (Ind)