Salihi : Menghela Ekonomi Rakyat, Pendidikan dan Kesehatan yang lebih Baik

0
403
Salihi B Mokodongan

Semilir menyapu raga, buih pantai Motabang berlatar pulau Molosing melukis pesona senja temaram. Sayup deru ombak kecil laksana irama musik, mengiring bincang-bincang awak media dengan kandidat Bupati Bolmong, Hi Salihi Bue Mokodongan, akhir pekan.

 

DUA gelas kopi tersaji diatas meja. Aroma kopi itu menggoda untuk segera menyeruputnya; panas-panas. Perut terasa hangat. Hi Salihi Bue Mokodongan (SBM) masih membiarkan gelas kopi di hadapannya mengeluarkan uap. Tak lama, sosok bersahaja ini menyeruputnya pula.

*****

 

Lima tahun memimpin Bolaang Mongondow (Bolmong), membuat Hi Salihi Bue Mokodongan, memahami betul liku-liku pemerintahan di daerah. Dua tahun periode pertama memimpin Bolmong, diakui Papa Da’a, dirinya berusaha menelisik ‘hitam putih’ pemerintahan daerah: Sistem manajemennya, Sumber Daya Manusianya, Anggarannya.

 

Makanya, selama itu pula ia berusaha menghindar dari kejaran wartawan. Baru pada tahun ketiga hingga akhir masa jabatan periode pertama, SBM membuka diri dengan kalangan pewarta. Dirinya mengkombainkan antara fakta sekitarnya dan yang dilontar para pewarta.
Banyak pelajaran diperolehnya pada periode pertama memimpin Bolmong. Baginya, pemimpin dan kepemimpinan dirangkum dalam dua kata yang sifatnya memaksa: Harus Jujur.

 

‘Roh’ membawa perubahan inilah yang terus menggelayuti SBM, yang tak dinyana mengakar pula di hati rakyat Bolmong.

 

Tak heran, SBM menjelma menjadi figure pemimpin yang bukan hanya disukai, disenangi rakyatnya. Tapi diinginkan terus memimpin Bolmong. Bukan cuma karena sifat alamiah-nya yang mengayomi. Melainkan Salihi ternobatkan sebagai sosok yang mewakili rakyat kecil di posisi top pemerintahan. Bukti pemihakannya pada kepentingan rakyat kecil sudah berbukti. Tidak cuma dalam bentuk program kegiatan yang dibiayai APBD dan APBN.

 

Namun, jauh sebelum menjabat Bupati Bolmong 2011-2016, dalam ruang keluarga, rakyat leluasa mengetuk pintu rumahnya. Layaknya anak datang kepada orang tua untuk berkeluh kesah, atau sahabat yang butuh solusi. Pintu rumahnya selalu berderit, bagi sesiapa pun. Dan, ketika kapal-kapal penangkap ikannya berlabuh di dermaga Labuang Uki. Tanpa jarak, rakyat dapat merengkuh uluran tangannya.

 

Bagi Salihi, dirinya dan keluarga merasa cukup dengan hasil sebagai Nelayan. Menjadi Bupati Bolmong merupakan takdir; seseorang melalui rakyat diutus Tuhan Yang Maha Esa sebagai pemimpin. Ia sadar betul, bahwa hanya dengan kejujuran pemimpin—tidak mementingkan diri sendiri dan berorientasi mengeruk keuntungan—keniscayaan rakyat mencapai taraf hidup yang lebih baik boleh digapai.

 

Lantas apa di dalam benaknya kini? Berikut saripati pikiran dan ucapan Hi Salihi Bue Mokodongan (SBM) saat diwawancarai sejumlah awak media :

 

Awak Media : Jika nanti pada 15 Februari 2017 rakyat Bolmong kembali memberi amanah kepada Anda menjadi Bupati Bolmong periode kedua, apa yang Anda lakukan?

SBM : Masyarakat harus kuat secara ekonomi. Dasar-dasar menuju ekonomi rakyat yang kuat, pondasinya sudah dibangun dari pemimpin ke pemimpin Bolmong. Di masa saya memimpin Bolmong 2011-2016, Waduk Pindol dibangun, Bandar Udara (Bandara) Lalow dirintis ke pemerintah pusat dan Alhamdulillah segera dibangun. Dan masih banyak lagi infrastruktur sudah dibangun. Ini semua tujuannya untuk menghela ekonomi rakyat.

 

Awak Media : Menghela ekonomi rakyat?. Sangat menarik. Boleh diperjelas?

SBM : Begini, saya berangkat dari rakyat kecil bermata pencaharian Nelayan dan dari hasil bertani. Dengan susah payah berusaha bangkit. Di masa itu saya butuh perahu dan kail untuk melaut. Bertani, perlu ada cangkul, parang, pupuk. Perlahan-lahan, semua yang dibutuhkan itu saya adakan secara mandiri. Nah, sampai disini, dimana peran pemerintah?. Tentu, jika dalam posisi masyarakat tidak punya apa-apa dalam menopang profesinya, perlu dibuat program kegiatan dibiayai APBD untuk pengadaannya. (di periode pertama menjabat Bupati Bolmong, tiap tahun anggaran ada kegiatan itu). Untuk menghela ekonomi rakyat di bidang pertanian, misalnya, perlu ada pengairan yang bagus, peralatan yang cukup. Hasil pertanian dan perikanan kita sekarang ini cukup tinggi. Untuk kebutuhan lokal sangat melimpah. Dua sektor ini andalan kita di Bolmong. Belum berbicara hasil tambang. Karena hasil yang lebih dari kebutuhan lokal, perlu dipasarkan di luar, tentu dengan harga yang lebih bagus. Maka kita butuh Bandara untuk menghelanya.

 

Awak Media : Pikiran dan ucapan Anda sekarang ini wujudnya sudah sedang berproses. Mengapa Anda sangat bergairah berbicara ekonomi rakyat?

 

SBM : Pemerintah di mana pun, siapa pun pemimpinnya, selalu mengalokasikan anggaran untuk pendidikan gratis, kesehatan gratis dan sebagainya. Itu sangat penting untuk merangsang masyarakat kurang mampu menjadi sejahtera. Data di masa saya menjabat Bupati Bolmong, Alhamdulillah banyak terentaskan dari program ini. Mengenai ekonomi rakyat, ini corak masyarakat kita di Bolmong. Kedepan, pemerintah daerah harus lebih fokus membenahinya, terlebih nanti sudah ada Waduk Pindol dan Bandara Lalow. Jika ekonomi rakyat hidup, masyarakat bisa menghela anak-anaknya sekolah setinggi-tingginya, mendapat pelayanan kesehatan yang lebih baik, hidupnya sejahtera.

 

Awak Media :  Jika Anda terpilih menjadi Bupati Bolmong periode kedua, Anda yakin bisa mewujudkan itu?

 

SBM: Kalau orang Bule berpikir jadi Manusia dulu baru Sekolah, kita orang Indonesia berpikir terbalik; Sekolah dulu baru jadi Manusia. Saya mungkin berpikiran Bule dan sangat memahami cara berpikir orang Indonesia (tertawa lebar). Insyaallah, bisa terwujud.

(Sumber : KabarBMR)

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.