Menyimpan Banyak Peristiwa Penting Sejarah Kerajaan Bolmong, Gunung Keramat Bubungon Harus Kembali Dilestarikan

0
1117
Gunung Keremat Bubungon yang terletak di Kecamatan Dumoga, Kabupaten Bolmong. Tempat Dideklarasikan Kerajaan Bolmong Pertama. Tampak Mulai Dirambah Menjadi Lahan Perkebunan dan Nyaris Gundul Sampai Puncak. (Foto: Indra S. S. Ketangrejo)

Penulis: Indra S. S. Ketangrejo

BOLMONG,DETOTABUAN,COM— Gunung kebanggaan Bolaang Mongondow (Bolmong) itu mulai terlihat biasa-biasa saja. Seperti tak pernah ada peristiwa penting di sana. Mulai tak sedap dipandang, keindahanya pun pudar dan tak terawat.

Gunung Keramat Bubungon. Begitu sebutan kebanyakan orang Bolmong pada umumnya. Gunung yang terletak diantara Desa Siniyung Satu dan Desa Bumbungon, Kecamatan Dumoga, Kabupaten Bolmong itu, menyimpan banyak peristiwa sejarah Bolmong.

Gunung Keramat Bubungon merupakan situs budaya yang sangat sakral bagi masyarakat Bolmong. Apalagi, kerajaan Bolmong dimulai dari Gunung Keramat Bubungon tersebut. Letak gunung itu tak jauh dari jalan Amurang – Kotamobagu – Doloduo (AKD) Bolmong.

Kira-kira 500 meter, bisa langsung terlihat saat melintas di jalan tersebut.
Konon menurut cerita para orang tua, pada abad ke-9, tepat di kaki Gunung Keramat Bubungon ini adalah lokasi perkampungan warga, yang namanya Dumoga. Yang saat ini telah berpindah wilayah dan terbagi menjadi Desa Siniyung, Pusian, Dumoga, dan Doloduo.

Masyarakat Bolmong Berada di Prasasti Gunung Keramat Bubungon Sebelum Menuju Puncak. (Foto: Indra S. S. Ketangrejo)

Meski begitu, sampai saat ini keempat Desa itu tetap mengakui kalau mereka awalnya adalah warga Dumoga, yang tinggal di wilayah kaki Gunung Keramat Bubungon kala itu.

Di masa itu, penduduk di kampung Dumoga, terdiri dari beberapa kelompok. Diantaranya, Kelompok Tolot, Marag, Ponikian, dan Tapa’ Batang. Di kampung Dumoga, dulu hidup sepasang suami istri yang bernama Kueno dan Obayow, mereka juga biasa menyebutnya Amalie dan Inalie.

Mereka merupakan Bogani (Pemimpin) penguasa penduduk di Bubungon. Konon, pasangan suami istri ini kala itu, hendak mencari ikan di sungai kecil. Lokasinya tak jauh dari Gunung Keramat Bubungon tempat mereka tinggal. Kira-kira di penghujung abad ke-13.

Setelah dalam perjalanan pulang, Bogani Amalie dan Inalie melihat burung duduk. Inalie meminta Amalie untuk menangkap burung duduk tersebut. “Domoka in lagapan duduk tua, (Tangkap burung duduk itu)” kata Inalie. Nah dari kata Domoka itu asal muasal nama kampung yang ada di kaki Gunung Keremat Bubungon kemudian menjadi kata Dumoga.

Tokoh Masyarakat Juga Pemerhati Budaya dan Sejarah Dumoga, Donal Oday, Saat Menjelaskan Tentang Gunung Keramat Bumbungon. (Foto: Indra S. S. Ketangrejo)

Bersamaan dengan itu, Amalie dan Inalie melihat ada benda berupa telur burung duduk terletak di tumpukan ranting yang ada di sungai kecil tempat mereka mecari ikan.

Lebih dekat Amalie dan Inalie mengarah ke benda itu, ternyata itu adalah bayi manusia yang masih terbungkus dengan selaput plasenta. Selang tujuh hari peristiwa ditemukannya bayi tersebut, terjadi dentuman keras disertai petir. Kejadian itu terfokus di tempat Amalie dan Inalie tinggal.

Mendengar hal itu, gemuruh hentakan kaki dari para Bogani dan penduduk, terdengar menuju Gunung Keremat Bubungon. Mereka hendak ingin mencari tau apa yang terjadi di wilayah kekuasaan Amalie dan Inalie.

Di sana mereka mendapati keberadaan bayi yang diletakkan di atas bakul. Dari situ, para Bogani bermusyawarah. Mereka mengambil kesepakatan untuk memberi nama bayi tersebut sebagai Mokodoludut yang artinya bergemuruh, dan mengakui bayi itu sebagai Punu (Raja) di wilayah Bolmong.

Ratusan Warga Saat Berada di Kaki Gunung Keramat Bumbungon. (Foto: Indra S. S. Ketangrejo)

Peristiwa-peristiwa penting ini yang membuat kecintaan warga Dumoga sampai saat ini, yakni Siniyung, Pusian, Dumoga, dan Doloduo menghormati Gunung Keramat Bubungon.

Bentuk keprihatinan warga Dumoga saat melihat keberadaan wilayah Gunung Keramat Bubungon saat ini yang sudah tak terawat lagi. Mereka sepakat untuk mengingatkan lagi kepada publik bahwa gunung itu harus dikembalikan seperti semula.

Hal itu dibuktikan dengan ratusan warga Dumoga berkumpul, dan kembali menyusuri gunung tersebut hingga ke puncak. Sekira pukul 10.00 Wita, Sabtu, 10 Oktober 2020, mulai dari anak-anak hingga orang tua berbondong-bodong naik ke Gungung Keramat Bubungon.

“Gunung ini sangat kami hormati, ada banyak peristiwa penting sejarah Bolmong yang terjadi di Gunung Keramat Bubungon ini,” ungkap sejumlah warga Dumoga.

Dalam perjalanan, mereka kembali mendengarkan cerita dari orang yang lebih tua, untuk meningatkan kembali peristiwa-peristiwa penting yang terjadi di sana.

Warga Menuju Puncak Gunung Keramat Bubungon. (Foto: Indra S. S. Ketangrejo)

Tokoh masyarakat Dumoga, yang juga sebagai pemerhati budaya dan sejarah Bolmong Donal Oday mengatakan, orang Dumoga Bolmong berada di tempat ini pada Abad ke-9. Kala itu, gunung ini sangat cantik dan tak pernah dirusak oleh siapapun.

Berbeda dengan saat ini, warga Bolmong pasti akan kecewa ketika melewati lokasi jejak para Bogani yang kini telah dijamah oleh tangan-tangan manusia yang tak bertanggungjawab. Kebanyakan orang mengatakan bahwa nama gunung ini adalah Gunung Keramat Bumbungon, tetapi yang sebenarnya adalah Gunung Keramat Bubungon.

Kini Gunung Keramat Bumbungon sangat memprihatinkan. Telah dirambah oleh masyararakat sekitar untuk dijadikan lahan perkebunan dan nyaris gundul sampai puncak.

“Salah satu yang menjadi bukti sejarah kejayaan Bolmong yang diakui oleh Pemerintah jaman dulu adalah dengan adanya prasasti yang dibuat sekitar tahun 80-an dan diresmikan oleh Gubernur Sulut Gustaf Hendrik Mantik pada masa itu,” katanya.

Namun sayang sekali, prasasti itu sudah terlihat tak bermakna lagi, hanya seperti beton biasa tanpa ada tulisan identintas Gunung Keramat Bumbungon lagi. Padahal, kejayaan Bolmong eksis di abad ke-13 dimulai di tempat ini.

Pemandangan dari Puncak Gunung Keramat Bubungon. (Foto: Indra S. S. Ketangrejo)

Dia menjelaskan, secara misteri kelahiran Punu Molantud atau Punu Mokodoludut Raja Bolmong Pertama lahir ditempat ini di kampung tua Dumoga tepat di bawa kaki Gunung Keramat Bubungon ini.

Kejadian pada waktu itu, di penghujung abad ke-13. Bahwa, ketika kesepakatan para Bogani yang hidup berkelompok, Mokodoludut dinobatkan sebagai Punu pertama dimana kejadian kelahirannya sangat misterius saat itu.

Punu Mokodoludut juga sangat eksis memerintah sekira 60 tahun, dan dipercaya oleh orang Dumoga sebagai Raja Bolmong, pertama .

Berdasarkan kesepakatan para Bogani di zaman dulu, lokasi ini tidak bisa disentuh. Selain lokasi ini adalah kelahiran Raja Mokodoludut. Alasan kenapa tidak bisa menebang pepohononan di gunung ini, karena Mokodoludut lahir dengan keadaan yang tidak sehat, ia sakit saat masih kecil.

Atas petunjuk dan berdasarkan ilham Ompu Duata (Yang Empunya Alam Semesta), ia diobati di rumah adat yang namanya Komalig, dan dimita untuk melakukan upacara adat pada waktu itu seperti aimbu, mobondit, momantun dan lain sebagainya.

Dan atas petunjuk ilham pada waktu itu juga, bahwa pepohonan di sini antara lain kayu al nunuklaiyan, atul, moyonggosian, dumalat, lomboit dan banyak lagi, berada di tempat ini dan disakralkan.

Itulah yang dipakai oleh para bogani, para ahli untuk mengobati Mokodoludut. Sehingga dia hidup sehat dan pada akhirnya dinobatkan sebagai raja Bolmong pertama . “Ini sudah melanggar komitmen para bogani bahwa Gunung Keramat Bubungon ini tidak bisa disentuh dan harusnya di pelihara,” jelasnya.

Jalan Turun Dari Gunung Keramat Bubungon. (Foto: Indra S. S. Ketangrejo)

Nah, maksud kedatangan mereka di puncak Gunung Keramat Bumbungon ini kata dia, karena keprihatinan masyarakat Dumuga yang sudah berlarut-larut sejak puluhan tahun.

Melihat situasi dan kondisi gunung yang notabene adalah, kampung tua oleh masyarakat asli Bolmong yang ada di Dumoga.

“Wilayah Kampung ini ditinggalkan oleh orang Dumoga sekitar tahun 1916. Keprihatinan kami adalah, gunung ini tidak terpelihara lagi, dan pepohonan itu sudah ditebang oleh orang yang tidak bertanggungjawab, sudah dijadikan lahan perkebunan,” tuturnya.

Berbagai masukan termasuk orang di luar Dumoga, Siniyung, Pusian, dan Doloduo, yang lewat di lokasi ini mengatakan, bukankah itu adalah situs sejarah Bolmong, yang patut dilestarikan.

“Kami, tergerak hati dan berinisiatif untuk menghubungi, pemerintah di Kecamatan Dumoga di wilayah kepolisian tempat ini, serta Kepala Desa Bubungon, untuk berkunjung ke tempat ini. Tujuan kami adalah menjelaskan kepada masyarakat Dumoga yang merupakan penduduk asli di Bubungon, bahwa inilah lokasi Gunung Keramat Bubungon, yang merupakan kampung tua Dumoga,” katanya.

Warga Usai Turun Gunung dan Hendak Pulang. (Foto: Indra S. S. Ketangrejo)

Tak hanya itu, mereka juga ingin menujukan keprihatinan serta sekaligus meminta kepada Pemerintah Daerah dan Provinsi yang saat ini dipimpin oleh Bupati Yasti Soepredjo Mokoagow, bupati kesayangan orang Bolmong, supaya lebih memperhatikan lagi situs budaya Gunung Keramat Bubungon ini.

“Kalau kami melihat silsilahnya Bipati Yasti Soepredjo Mokoagow adalah keturunan Raja Loloda Mokoagow yang moyangnya adalah Mokodoludut yang lahir di kampung Dumoga Bubungon, pada abad ke-13 silam. Kiranya Bupati bisa memperhatikan kembali Gungung Keramat Bubungon ini,” katanya.

Mereka mengusulkan, dan berharap Pemerintah supaya mengadakan simbol kejayaan Bolmong di Gunung Keramat Bubungon ini, karena raja Bolmong pernah eksis di sini. Apalagi ketika Raja Loloda Mokoagow sangat terkenal di Sulut.

Mereka menginginkan bahwa ada simbol kejayaan Bolmong, yakni dengan melestarikan Gunung Keramat ini. Ada prasasti yang sudah tidak ada tulisannya lagi, kiranya dapat dibuat kembali oleh Pemerintah Daerah.

Intinya kata dia, ada bukti pemeliharaan kembali lahan-lahan yang telah digarap oleh masyarakat, serta menentukan batas- batas wilayah lokasi gunung keramat ini.“Sehingga mereka mengetahui wilayah yang layak mereka garap sebagai lahan pertanian, dan mana yang patut untuk dilestarikan sebagai cagar budaya,” tegasnya.

Lajutnya, kerusakan Gunung Keramat Bumbungon ini sudah seharusnya mendapat perhatian khusus oleh Pemerintah untuk dijadikan berdaya dan bermakna sebagai situs sejarah.

Warga Dumoga meminta pemerintah memberikan payung hukum sebagai sebuah kawasan yang harus bebas dari perambahan dengan alasan apapun. “Seperti menjadikannya cagar budaya sebagai situs bersejarah tempat dideklarasikannya Kerajaan Bolmong,” tutupnya. (*)