Di Usia 9 Tahun, Akankah Kotamobagu ‘Kehilangan Warna’ ?

0
647
Di HUT Kotamobagu ke 9, Akankah Kotamobagu kehilangan Warna?
Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya di Perayaan HUT Kotamobagu kali ini, Walikota Tatong Bara, justru menggunakan pakaian serba merah. (Foto : Facebook Uwin)

(Penulis : Yodi Marendes)

SEMBILAN TAHUN sudah kota kotamobagu berpisah dari induknya Bolaang Mongondow, kota yang merupakan pusat ibu kota (Bolaang Mongondow) saat itu, disaat masih bersama dengan Kabupaten Bolaang Mongondow. Tentu kotamobagu secara infrastruktur lebih baik dari kabupaten-kabupaten di Bolaang Mongondow Raya (BMR) -saat itu- karena merupakan pusat pemerintahan.

Sebelum Bolaang Mongondow melahirkan beberapa kabupaten lain yaitu Bolaang Mongondow Selatan, Timur dan Utara. Tentu selain menjadi kiblat perpolitikan di BMR, secara infrasturktur pembangunannya lebih dari kabupaten-kabupaten yang lain.

Tiga pemimpin pernah dan sedang menjabat sebagai Walikota mulai dari PJS. Walikota Ir. Siswa Rahmat Mokodongan, Djelantik Mokodompit, S.Sos, ME dan Ir. Tatong Bara. Dengan berbagai warna-warni politik kepemerintahan yang telah dan sudah menghinggap di kota ini, tentu kita dapat menelaah secara kasat mata gapaian-gapaian yang telah diraih setiap kepemimpinan.

Ir. Siswa Rakhmat Mokodongan, selaku birokrasi tulen dengan pangkat tertinggi dijajaran birokrasi termasuk di Sulut, telah mengakselerasi Kota Kotamobagu dengan memperkuat peran birokrasi dalam pelayanan publik, dengan hanya sebagai PJS Walikota yang memiliki kewenangan terbatas, belum sepenuhnya Ia memberikan persembahan terbaiknya dalam bidang-bidang yang lainnya.

Djelantik Mokodompit, lima tahun memimpin kota ini, pelan-pelan merubah wajah kotamobagu dengan beberapa perbaikan infrastruktur, kebersihan kota dihandalkan dengan program moposadnya dari piagam adipura hingga akhirnya berbuah kemenangan Adipura ditorehnya, dibidang pendidikan dan kesehatan mengalami progres real public, walaupun akhirnya cita-cita menjadikan universitas tertua di BMR (UDK) menjadi Universitas Negeri pupus karena memang beliau sudah tidak terpilih lagi menjadi walikota untuk kedua kalinya.

Padahal komisi tiga DPRD KK saat itu sudah menyanggupinya, bahkan Pemerintah Kota Kotamobagu, DPRD KK dan Pihak UDK telah mempurnakan fasibilty study untuk Universitas Negeri dan telah berkonsultasi dengan salah satu universitas terkemuka di pulau jawa untuk maksud tersebut, dibidang birokrasi khususnya pelayanan publik masih ada beberapa sisi yang dianggap kurang, tapi dibidang politik antara eksekutif – legislatif setidaknya berjalan dengan akselerasi selaras, mendekati harmonis, setidaknya marwah politik kekuningan yang melekat dalam diri Djelantik Mokodompit, mampu dituangkan demi kota kotamobagu.

Nah, bagaimana dengan Ir. Tatong Bara pasca terpilih menggantikan Djelantik Mokodompit, tahun pertama hingga kedua kepemimpinannya ? diawali dengan ‘gundah gulana’ pertarungan gagasan antara eksekutif dan legislatif tentang beberapa plan kota kotamobagu kedepan, antara kebijakan prioritas serta visi-misi yang diprioritaskan kepemimpinan Ir. Tatong Bara yang hampir-hampir tarik menariknya tak berujung.

Akan tetapi, lepas dari dinamika tersebut, akhirnya beliau mampu membuktikan dengan beberapa kebijakannya yang hari ini boleh dilihat bersama-sama, mulai dari infrastruktur pembangunan digenjotnya, pembenahan birokrasi mulai mendekati job description sesuai latar belakang pendidikan dan kepangkatan. Bidang pendidikan dan kesehatan design hampir mirip pemimpin terdahulu.

Menariknya, ditengah-tengah kepemimpinan Ir. Tatong Bara, kota kotamobagu yang dulu dibawahnya kelihatan memiliki marwah kebiruan, tiba-tiba mendekati HUT kesembilan Kota Kotamobagu kelihatan hilang dan akhirnya kota kedepan ‘telah kehilangan warna itu’, Mungkinkah warna itu berganti dengan warna lain ? kita tunggu saja (…..)

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.