Menyalakan Lilin di Ruang Kuliah itu Lebih dari Sekadar Transfer Ilmu

oleh -88 Dilihat
oleh

Oleh: Moh. Zulkifli Paputungan

Di tengah riuhnya diskursus tentang peringkat universitas, indeks sitasi jurnal, dan tuntutan administrasi yang kian menumpuk, seringkali kita melupakan satu elemen sunyi yang justru menjadi denyut nadi pendidikan tinggi: Karakter.

Kampus bukan sekadar pabrik pencetak sarjana, dan dosen bukan sekadar mesin penyampai materi. Ada kontrak sosial tak tertulis yang jauh lebih mengikat daripada silabus semesteran, yaitu kontrak moral. Pertanyaannya, sejauh mana kita, para pendidik, menyadari bahwa setiap gerak-gerik kita di ruang kuliah fisik maupun virtual adalah kurikulum yang hidup?
Kurikulum Tersembunyi
Mahasiswa mungkin akan lupa rumus kalkulus atau teori sosial yang kita ajarkan dua tahun lalu. Namun, mereka tidak akan pernah lupa bagaimana cara kita memperlakukan mereka. Mereka merekam bagaimana kita merespons keterlambatan, bagaimana kita menghargai perbedaan pendapat, atau seberapa adil kita dalam memberikan penilaian.

Baca Juga :  Adinda Kalah, Bombardir Genggam Trophy Sumarsono

Inilah yang disebut sebagai the hidden curriculum. Ketika seorang dosen menuntut mahasiswa untuk tidak melakukan plagiarisme, namun di sisi lain ia tidak jujur dalam penelitiannya sendiri, maka ia sedang mengajarkan hipokrisi, bukan integritas.

Ketika seorang dosen menuntut kedisiplinan, namun ia sendiri datang seenaknya, ia sedang mengajarkan bahwa “peraturan hanya berlaku untuk yang lemah.”

Kepeloporan sejati tidak lahir dari paksaan regulasi atau ancaman sanksi birokrasi. Kepeloporan lahir dari kesadaran bahwa dosen adalah etalase moralitas akademik.

Menjadi Lokomotif Peradaban
Membangun ekosistem akademik yang sehat tidak bisa dilakukan secara top-down (dari atas ke bawah) melalui surat edaran semata. Ia harus tumbuh secara organik dari keteladanan para pengajar. Dosen adalah penggerak utama. Jika kita menginginkan lingkungan yang bebas dari kecurangan, manipulasi, dan kekerasan verbal, maka kitalah yang harus pertama kali “selesai” dengan diri kita sendiri.

Baca Juga :  Bahas Efektivitas dan Efisiensi Anggaran, Yasti Kumpul Kepala SKPD

Menjadi pionir berarti berani mengambil jalan sunyi. Misalnya, tetap objektif menilai mahasiswa yang kritis dan vokal, menolak gratifikasi dalam bentuk apa pun meski dianggap lumrah oleh lingkungan sekitar, atau berani mengakui kesalahan di depan kelas saat keliru menyampaikan data. Tindakan-tindakan kecil ini adalah manifestasi nyata dari kepatuhan terhadap nilai-nilai luhur profesi tanpa perlu berteriak tentang aturan.

Gema yang Tak Pernah Putus
Kita hidup di era di mana batas antara ruang privat dan publik semakin kabur.

Jejak digital dosen di media sosial pun kini menjadi bagian dari penilaian publik. Integritas kita diuji tidak hanya saat mengenakan toga, tapi juga saat berinteraksi di dunia maya. Apakah narasi yang kita bangun menyejukkan atau justru memprovokasi? Apakah kita menjadi pemecah masalah atau pemantik konflik?

Baca Juga :  PAN Minta Sekda Bolmong Harus Definitif

Pada akhirnya, marwah sebuah perguruan tinggi tidak hanya ditentukan oleh gedung yang megah atau laboratorium yang canggih, melainkan oleh integritas para penghuninya.

Mari kita berhenti sejenak dari kesibukan mengejar target administratif, dan mulai bertanya pada cermin: Apakah saya sudah menjadi alasan bagi mahasiswa saya untuk percaya bahwa kejujuran dan etika masih berharga di dunia ini?

Sebab, satu teladan yang nyata jauh lebih menggema daripada seribu pasal peraturan yang tertulis di atas kertas. Mari menyalakan lilin integritas itu, dimulai dari meja kerja kita sendiri.

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

No More Posts Available.

No more pages to load.