Oleh: Moh. Zulkifli Paputungan
Indonesia adalah sebuah mozaik raksasa. Bangsa ini ditakdirkan lahir di atas keragaman yang kompleks, mulai dari suku, agama, ras, hingga antargolongan (SARA). Heterogenitas ini adalah pisau bermata dua; ia bisa menjadi kekayaan budaya yang memukau dunia, atau sebaliknya, menjadi amunisi konflik yang memecah belah persatuan. Kunci untuk menjaga agar keragaman ini tetap menjadi berkah adalah satu kata yang sering didengungkan namun kerap kali sulit dipraktikkan: toleransi.
Dalam diskursus sosial hari ini, toleransi tidak cukup hanya dimaknai sebagai sikap “membiarkan” orang lain ada. Toleransi harus naik kelas menjadi sikap aktif untuk membangun jembatan persaudaraan tanpa sekat, serta menumbuhkan penghormatan yang tulus terhadap keyakinan liyan.
Menembus Sekat SARA dalam Interaksi Sosial
Salah satu tantangan terbesar dalam kehidupan bermasyarakat adalah kecenderungan manusia untuk berkumpul hanya dengan mereka yang “serupa”. Eksklusivisme kelompok sering kali melahirkan prasangka. Kita mencurigai apa yang tidak kita kenal. Oleh karena itu, membuka diri terhadap pertemanan lintas SARA bukan sekadar aksi sosial, melainkan sebuah upaya intelektual dan spiritual untuk meruntuhkan tembok ketidaktahuan.
Berteman tanpa memandang latar belakang SARA adalah bentuk kedewasaan berbangsa. Ketika seorang individu mampu menjalin persahabatan dengan individu lain yang berbeda etnis atau budaya, terjadi proses dialogis yang alamiah. Stereotip negatif perlahan luntur digantikan oleh pemahaman yang utuh tentang manusia. Kita menjadi sadar bahwa nilai-nilai universal seperti kejujuran, kasih sayang, dan gotong royong terdapat dalam setiap kebudayaan dan golongan.
Etika Menghormati Keyakinan: Batasan dan Penghormatan
Aspek paling fundamental dalam toleransi adalah kehidupan beragama. Agama adalah wilayah privat yang sangat sensitif karena menyangkut keyakinan mutlak seseorang terhadap Tuhannya. Di sinilah letak ujian kedewasaan kita.
Menghargai agama orang lain tidak bermakna kita harus mencampuradukkan akidah atau menggadaikan prinsip teologis kita sendiri. Justru, toleransi yang sejati tumbuh di atas kesadaran bahwa setiap orang memiliki hak asasi untuk memeluk dan menjalankan agamanya dengan tenang. Penghormatan adalah tentang memberikan ruang.
Sikap menghargai ini termanifestasi dalam tindakan nyata: menjaga ketenangan saat penganut agama lain beribadah, tidak menjadikan simbol agama lain sebagai bahan olok-olokan, dan mengedepankan dialog santun jika terjadi gesekan. Filosofinya adalah “menghormati perbedaan, bukan menyamakan keyakinan.” Dengan cara ini, harmoni sosial dapat tercipta tanpa harus ada pihak yang merasa keyakinannya terancam.
Konklusi: Toleransi sebagai Investasi Masa Depan
Pada akhirnya, kehidupan yang toleran adalah prasyarat mutlak bagi kemajuan sebuah bangsa. Tidak ada negara yang bisa maju jika energinya habis terkuras untuk konflik horizontal.
Kita perlu menanamkan pola pikir bahwa perbedaan adalah aset, bukan ancaman. Persahabatan yang tulus melintasi batas SARA dan sikap saling menghormati antarumat beragama adalah investasi sosial yang paling berharga. Mari kita mulai dari lingkungan terdekat kita; menjadi pribadi yang inklusif, yang kehadirannya membawa kedamaian bagi siapa saja, tanpa melihat label yang melekat pada identitas mereka. Karena di atas segala perbedaan, kita semua dipersatukan oleh satu hal yang sama: kemanusiaan.






