Kritik Gaji dan Upah Lembur Karyawan Paris, Parindo Dianggap Tendensius dan Memaksakan Opini Pembusukan

0
871
Denny Mokodompit (Humas Paris Superstore)

KOTAMOBAGU,DETOTABUAN.COM – Humas Paris Superstore, Denny Mokodompit (DeMo), memberikan tanggapan terkait kritikan yang dilayangkan Mantan Ketua LMND Kotamobagu Parindo Potabuga.

(Baca : https://detotabuan.com/2017/06/17/parindo-paris-superstore-itu-manifestasi-kolonialisme/)

Selain tidak objektif, Parindo dianggap terlalu tendensius serta memaksakan opini pembusukan terhadap Paris. “Jika niatnya Objektif tanpa tendensius, harusnya bicara secara umum,” kata DeMo.

Pasalnya kata DeMo, ada ratusan perusahaan di Kotamobagu yang masih menerapkan kebijakan sama dengan Paris Superstore, termasuk pemerintah kota yang mempekerjakan tenaga honorer, dengan gaji dibawah UMP.

“Kalau mau objektif, kritisi seluruh perusahaan di Kotamobagu atau bikin laporan resmi pada lembaga berkompeten, agar diproses, bukan teriak-teriak di media,” kata dia.

Yang sangat disayangkan kata DeMo, kenapa hanya Paris Superstore yang disorot. Sementara, supermarket maupun perusahaan lain yang juga menerapkan kebijakan sama tidak di kritik.

“Kenapa Abdi Karya, Dragon dan lain-lain, yang terapkan kebijakan yang sama dengan Paris, justru didiamkan…? Gaya kritis yang subjektif dan Tendensius seperti ini yang merusak dunia investasi di BMR,” kata DeMo.

Sebelumnya, Mantan Ketua LMND Parindo mengkritisi pemberian gaji 600 karyawan Paris Superstore yang tidak sesuai UMP, Paris Superstore juga dianggap mengangkangi UU Ketenagakerjaan, dengan tidak membayar upah lembur karyawan, padahal jam kerja karyawan telah melebihi batas waktu yang ditetapkan dalam UU ketenagakerjaan.

“Tahun 2009, paris superstore pernah kami kritisi terkait persoalan itu (UMP dan Upah lembur karyawan) bahkan ditindak-lanjuti dengan aksi demo, tapi tetap saja mereka tidak mau tau dengan kritikan tersebut, karenanya saya menilai Paris Superstore merupakan Manifestasi kolonialisme,” kata Parindo.

(Tr-02)