Jikapun Kau Abnormal, Aku Masih Tetap Akan Mencintaimu

0
1224
Neno Karlina Paputungan
HARI ini tatapanmu sinis, tak biasa.
Membias dari kedalaman hati yang paling dan sangat dalam. Ada kecamuk kegelisahan yang mulai menggerogotimu. Nampaknya memang kau sedang merindukanku, Bodoh yang bugil ini. Lalu bagaimana kau berusaha memungkiri, bukankah kaupun mulai mesra dengan bugil yang sama, bodoh yang katamu bangga berdiri didepan kantor Pemkot KK.
Perlahan terjerat, terus saja, rasanya sepadan memang. Hausku terbayar sudah, bahkan sekaliber dan sehebatmu bisa sangat terjebak dalam gulungan resah pada tulisan bodoh ini.
Sederaten huruf yang biasanya memaksamu beronani dengan segelintir oponi mulai menemukan muaranya untuk perlahan-lahan menuju padaku. Tidakkah kau sadar jika bugil ini mulai begitu menarik perhatianmu, anggaplah kali ini aku cukup percaya diri.
Sayang, terlalu lama sudah aku sekarat bahkan ketika baru berada dilevel pemula. Angkuh dada busungmu kau toreh dalam susunan kata yang menghujam, mendikte, dan membenarkan apapun yang kau anggap benar, sama sekali tak akan membuatku mati. Tak apa, sungguh tak mengapa. Kau yang hebat itu,benar-benar seolah menjadi candu bagiku, bahkan jikalau semua orang tak menganggapmu hebat, sebagai pemula dan yang muda aku masih akan tetap mengagumimu.
Karena rasanya sebelum dan bahkan setelah  mesrah denganmu, mental petarung mulai datang padaku. Tak takut cemooh, dikte-dikte, dan bahkan aku tak takut pada besarnya nama dan popularitasmu. Sebab, jikapun dinilai tak layak dan gagal jadi pewarta, aku masih akan terus menulis. Bukan untukmu, tak perlu pula harus mendapat pengakuan darimu, sungguh, tak perlu menjadi sangat hebat sepertimu, cukup jujur terhadap hati dan tulisan sendiri, bukankah kekuatan hakiki adalah kerendahan hati dan mampu menundukkan hawa nafsu, itu juga kata nenekku, dan yang hingga kini berusaha aku ikuti. Itulah yang jauh lebih berarti bagi diriku yang kau bugilkan ini, meski novelis lokal, senior, utat dan putra daerah yang selalu rendah hati dan juga memotivasi kami disini, Alm Anuar Totabuan Syukur berusaha terus membungkusku dan pemula-pemula asli daerah untuk tak terlihat bugil.
Kami kehilangan sosok yang menginspirasi, air mataku memang meleleh, tapi bukan karena menelisik tetek bengek ketololan dan kedunguan. Apalagi mengurusi ketidakpedulianmu terhadap kebodohanku dan bugil-bugil yang lainnya disini. Orang Mongondow yang membodohkan dan membiarkan orang mongondow lainnya terlihat bodoh. Nampaknya memang kita adalah daerah yang banyak mengoleksi generasi yang bugil dan bodoh, dan kalaupun ada generasi yang berbalut pengetahuan, lupa tanggung jawab dan beban moral untuk membungkus generasi ini, bahkan justru malah membugilkan disaat dia tidak menyadari dalam keadaan yang juga  masih setengah telanjang.
Air mataku kian tumpah, bahkan derasnya mungkin menandingi hujan yang membuat Bolmong harus siap siaga bencana, hatiku terenyuh saat aku mendengar pernyataan Mongol Stend Up Comedy yang tak henti-hentinya mengingatkan saudara-saudara sejawatnya, orang Manado yang telah sukses diluar daerah untuk pulang dan membangun Manado. Kenapa kau mulai beku?, sehebat apapun kau, kini bagiku sama cundang dan bugilnya sepertiku. Jadi jangan akhiri mesra ini dulu. Bukankah aku telah terlanjur bugil?
Terkadang tempaan pendidikan yang matang, ditunjang pengalaman dan usia membuat seseorang kerap terlihat kesatria yang handal dalam mengolah dan bersilat lidah. Tak perlu basa basi, aku terlanjur bugil, aku tak butuh pernyataan, atau pidato. Aku dan bugil-bugil yang lainnya butuh tanggung jawab dan sentuhan intelek sepertimu. Maka pulanglah… Jangan terus beronani dengan persepsi sendiri, jauh dari Totabuan yang kita cintai. Pulanglah, dekap dan rasakanlah. Ketahuilah, bahkan jikapun kau abnormal, aku masih akan tetap mencintaimu.
(Neno Karlina Paputungan)

 

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.