Saat Bupati Bangga dengan QRIS, Petugas di Lapangan Justru Masih Robek Karcis Kertas : Satu Pintu Masuk Dibiarkan “Bocor”

oleh -46 Dilihat

Detotabuan.com, Boltara — Di tengah kebanggaan Bupati atas peluncuran sistem pembayaran digital QRIS, fakta di lapangan justru berbicara sebaliknya. Di kawasan wisata Pantai Batu Pinagut, program digitalisasi retribusi yang digembar-gemborkan Pemerintah Kabupaten Bolaang Mongondow Utara (Boltara) tampak belum lebih dari sekadar seremoni.

 

Meski QRIS retribusi pariwisata telah diserahkan secara simbolis kepada Kepala Dinas Pariwisata pada Selasa, 17 Maret 2025, praktik di lapangan masih jauh dari harapan. Pengunjung tetap dipungut retribusi secara manual, sementara petugas masih mengandalkan karcis kertas.

 

Ironisnya, program yang diklaim sebagai bagian dari Elektronifikasi Transaksi Pemerintah Daerah (ETPD) untuk mencegah kebocoran Pendapatan Asli Daerah (PAD) itu justru belum berjalan efektif.

Baca Juga :  Terkait Dugaan Pemangkasan Honor Paskibra, Kejaksaan Panggil Kabid PNFI-PO

 

Petugas di pintu masuk bahkan mengakui QRIS belum digunakan.

 

“Baru rencana hari ini dipakai, kemarin belum ada,” ujar salah satu penjaga, Senin (23/3/2026).

 

Kondisi ini mempertegas peluncuran QRIS sebelumnya belum diiringi kesiapan teknis di lapangan.

 

Lebih memprihatinkan lagi, sistem pengawasan di lokasi wisata terkesan amburadul. Dari tiga pintu masuk yang tersedia, hanya dua yang dijaga. Satu akses di bagian tengah justru dibiarkan terbuka tanpa pengawasan, memberi ruang bagi pengunjung masuk tanpa membayar retribusi.

 

Situasi ini jelas membuka celah kebocoran PAD di tengah gencarnya klaim perbaikan sistem.

 

Saat dikonfirmasi, Kepala Dinas Pariwisata Boltara, Noval Djarumia, tidak menampik bahwa penerapan QRIS belum berjalan maksimal. Ia menyebut pihaknya masih menggunakan skema hybrid, yakni menggabungkan metode pembayaran tunai dan non-tunai.

Baca Juga :  Bupati dan Wakil Bupati Boltara Ikuti Sidang Isbat, Pemerintah Tetapkan 1 Ramadan 1447 H Jatuh pada 19 Februari 2026

 

“Kami masih menggunakan skema hybrid, jadi pembayaran tunai tetap berjalan. QRIS digunakan kalau ada yang membayar non-tunai. Ini masih tahap penyesuaian dan sosialisasi,” ujarnya.

 

Ia mengakui sejumlah kendala, mulai dari keterbatasan jaringan, antrean panjang di pintu masuk, hingga belum meratanya pemahaman masyarakat terhadap pembayaran digital.

 

Meski demikian, terkait temuan adanya pintu masuk tanpa pengawasan, ia mengklaim seluruh titik telah ditempatkan petugas, termasuk di Pos Boroko Timur.

 

“Semua pintu masuk sudah kami tempatkan petugas bersama Satpol PP. Kami akan cek lagi di lapangan,” katanya.

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

No More Posts Available.

No more pages to load.