Sukses Tekan Angka Kelahiran, Program KB Picu Krisis Murid di Sekolah Pinogaluman

oleh -1 Dilihat
oleh

Detotabuan.com,BOLTARA – Program Keluarga Berencana (KB) yang selama ini digalakkan di Kecamatan Pinogaluman dinilai sukses menekan angka kelahiran. Namun, di balik keberhasilan itu, muncul kekhawatiran baru, jumlah siswa di sekolah semakin menyusut dari tahun ke tahun.

Isu ini mencuat dalam rapat kerja pemerintah daerah yang digelar di Aula Kantor Camat Pinogaluman, Jumat (9/1/2025). Rapat tersebut dihadiri unsur pendidikan, tenaga kesehatan, serta jajaran pemerintah kecamatan.

Kepala SMP Negeri 4 Pinogaluman, Dr. Edhi Ismail, mengungkapkan kegelisahannya saat diberi kesempatan berbicara.

Ia menegaskan bahwa dirinya bukan menentang program KB. Menurutnya, KB adalah kebijakan penting untuk menjaga kesehatan ibu dan membantu keluarga merencanakan masa depan secara lebih baik.

“KB itu program yang sangat baik. Kami dukung. Tapi kita juga harus melihat dampak jangka panjangnya, terutama di sektor pendidikan,” ujar Edhi.

Baca Juga :  Pesisir Pantai Sangtombolang Akan Ditanami Mangrove

Ia menjelaskan, menurunnya angka kelahiran secara otomatis akan berimbas pada jumlah anak usia sekolah. Jika tren ini terus berlanjut, maka jumlah siswa di sekolah akan semakin sedikit setiap tahun.

“Kalau kelahiran turun, siswa juga turun. Ini logika sederhana. Tapi dampaknya bisa besar,” katanya.

Edhi mengingatkan, minimnya jumlah siswa bisa memicu kebijakan penggabungan atau merger sekolah. Jika itu terjadi, anak-anak harus menempuh jarak yang lebih jauh untuk bersekolah.

“Kalau sekolahnya jauh, semangat anak bisa menurun. Orang tua juga akan kesulitan mengantar. Ini bisa memengaruhi kualitas pendidikan,” jelasnya.

Ia juga mengaitkan persoalan ini dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Menurutnya, sektor pendidikan dan kesehatan merupakan dua indikator penting dalam pengukuran IPM. Jika akses pendidikan makin sulit akibat jarak sekolah yang jauh, maka kualitas SDM daerah bisa ikut terpengaruh.

Baca Juga :  Pj Bupati Hadiri Acara Peresmian Serta Launcing Tahapan Pilkada

Karena itu, Edhi meminta agar kebijakan KB tetap dijalankan, namun dengan pendekatan yang lebih seimbang.

“Kami tidak menolak KB. Tapi untuk keluarga yang sudah sehat, sejahtera, dan tidak berisiko, jangan terlalu dibatasi. Anak-anak ini adalah aset masa depan daerah,” tegasnya.

Pernyataan Edhi bukan tanpa dasar. Camat Pinogaluman, Sarwan H. Abidin, membenarkan bahwa penurunan jumlah siswa memang sudah terjadi di beberapa sekolah.

Ia mengaku telah turun langsung melakukan pengecekan ke sejumlah sekolah di wilayahnya. Hasilnya, cukup mengkhawatirkan.

“Ada sekolah yang satu kelas hanya diisi dua siswa. Ini bukan cerita, ini fakta di lapangan,” kata Sarwan.

Menurutnya, jika kondisi ini terus berlangsung, maka opsi penutupan atau penggabungan sekolah bisa menjadi pilihan yang tak terelakkan.

Baca Juga :  Meski Diguyur Hujan, Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila di Bolsel Tetap Berlangsung Khidmat

“Kalau sekolah ditutup dan digabung, otomatis jarak tempuh anak makin jauh. Dan itu bisa membuat anak malas sekolah,” ujarnya.

Sarwan menambahkan, jika minat belajar menurun, maka dampaknya bukan hanya pada siswa, tetapi juga pada kualitas pembangunan manusia di Pinogaluman secara keseluruhan.

“Ini bukan sekadar soal jumlah murid. Ini soal masa depan daerah,” tegasnya.

Diskusi dalam rapat tersebut pun membuka ruang evaluasi baru bagi pemerintah kecamatan. Mereka sepakat bahwa kebijakan kependudukan dan pendidikan harus berjalan beriringan, bukan saling melemahkan.

Ke depan, pemerintah daerah diharapkan mampu menemukan formula terbaik, tetap menjaga keberhasilan program KB, namun tanpa mengorbankan keberlanjutan dunia pendidikan.

(Ipul)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

No More Posts Available.

No more pages to load.