Menjadi Mercusuar di Lautan Informasi

oleh -15 Dilihat
oleh

Oleh: Moh. Zulkifli Paputungan

Di tengah riuh rendahnya jagat maya Indonesia, kita sering kali terjebak dalam ilusi bahwa “hukum” hanyalah sekadar pasal-pasal kaku yang tertulis dalam Kitab Undang-Undang atau UU ITE. Kita lupa bahwa hukum yang paling kuat bukanlah yang ditegakkan oleh ketukan palu hakim, melainkan yang hidup dalam kesadaran dan perilaku masyarakatnya.

Hari ini, tantangan terbesar kita bukan lagi soal akses internet karena hampir semua orang sudah terkoneksi.

Tantangan terbesarnya adalah krisis keteladanan.

Ruang digital kita, baik di media sosial maupun dalam penggunaan basis data ilmiah, mengalami defisit tokoh atau individu yang mampu menjadi contoh nyata kepatuhan hukum.

Integritas: Barang Langka di Era “Copy-Paste” Mari kita bicara jujur. Di media sosial, pelanggaran hak cipta (copyright) dianggap hal lumrah.

Mengambil video karya orang lain, memotong watermark-nya, lalu mengunggah ulang demi monetasi atau like adalah pemandangan sehari-hari.

Sementara itu, di lorong-lorong akademis yang sunyi, integritas basis data ilmiah juga sedang diuji.

Fenomena “joki skripsi” dan fabrikasi data penelitian adalah rahasia umum yang menyedihkan. Ketika data ilmiah yang seharusnya menjadi fondasi kebenaran—dimanipulasi demi gelar atau pangkat, kita sebenarnya sedang meruntuhkan tiang penyangga kemajuan bangsa.

Baca Juga :  Rapat Evaluasi Bersama Pemprov Sulut, Wabup Deddy Tegaskan Bolsel Siap Sukseskan Program MBG

Di titik inilah kita membutuhkan “Sang Teladan”. Bukan mereka yang hanya pandai bicara soal hukum, tetapi mereka yang menghidupi ketaatan itu dalam setiap klik dan ketikannya.

Siapakah Teladan Itu?
Teladan ketaatan hukum digital tidak harus seorang pejabat atau pakar hukum. Teladan itu bisa jadi adalah Anda:

1. Sang Penjaga Sumber (The Guardian of Source) Seorang teladan di era informasi adalah mereka yang mengharamkan plagiarisme. Di media sosial, ia selalu mencantumkan kredit (cr) pada foto yang bukan miliknya.

Di dunia akademis, ia adalah mahasiswa atau dosen yang menjunjung tinggi sitasi yang benar. Ia tidak akan mencuri data orang lain hanya untuk terlihat pintar.

Baginya, mencantumkan sumber bukan hanya soal aturan penulisan, tetapi soal menghormati hak intelektual orang lain.

2. Sang Pemutus Rantai Hoaks Ketaatan hukum juga berarti tidak berpartisipasi dalam kejahatan penyebaran informasi palsu.

Baca Juga :  Dituding Tak Netral, Kabag Ops : Issu Itu Tidak Benar

Seorang teladan memiliki prinsip: “Saring sebelum Sharing”. Ia melakukan verifikasi berbasis data sebelum membagikan berita. Jika tidak ada basis data ilmiah atau sumber valid yang mendukung sebuah klaim (terutama soal kesehatan atau kebijakan publik), ia memilih diam. Ia menjadi “polisi tidur” yang memperlambat laju kebohongan.

3. Sang Anti-Jalan Pintas Di tengah normalisasi budaya instan, menjadi teladan berarti berani menempuh jalan sunyi yang legal. Ia adalah konten kreator yang rela tumbuh lambat asalkan menggunakan aset visual yang berlisensi resmi, bukan bajakan.

Ia adalah peneliti yang rela berjibaku di lapangan demi data yang valid, menolak menggunakan jasa joki atau memalsukan angka statistik.

Keberanian menolak “jalan pintas ilegal” inilah bentuk keteladanan tertinggi.

Efek Domino Keteladanan
Mengapa kita harus repot-repot menjadi taat hukum jika orang lain melanggarnya dengan bebas? Jawabannya ada pada “Efek Domino”.

Ketidaktaatan itu menular, tetapi begitu juga dengan ketaatan.

Baca Juga :  Pjs Bupati dan Keluarga Ikut Bhakti Sosial Donor Darah

Ketika satu orang influencer besar berani meminta maaf secara terbuka karena salah mengutip data, ribuan pengikutnya belajar tentang tanggung jawab.

Ketika satu dosen dengan tegas menolak meluluskan mahasiswa yang menggunakan joki, ia sedang menyelamatkan integritas satu generasi sarjana.

Hukum di atas kertas memiliki keterbatasan jangkauan. Polisi Siber tidak bisa memantau 270 juta penduduk Indonesia selama 24 jam. Namun, keteladanan memiliki daya penetrasi yang tak terbatas. Ia menginspirasi tanpa menggurui.

Mulai dari Diri Sendiri
Sudah saatnya kita berhenti menunjuk hidung pemerintah atau aparat penegak hukum atas kekacauan di ruang digital kita. Perubahan sejati dimulai dari cermin.

Mari menjadi mercusuar. Jadilah pengguna media sosial yang santun dan taat asas.

Jadilah akademisi dan pelajar yang jujur pada data.

Di era di mana kebohongan bisa berlari secepat kilat, menjadi orang yang jujur dan taat hukum adalah tindakan heroik yang sesungguhnya.

Indonesia butuh lebih banyak teladan, dan kursi kosong itu menunggu untuk Anda isi.

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

No More Posts Available.

No more pages to load.