Ramadhan Fest di Tengah Banjir Bakan, Warga Soroti Empati PT JRBM

oleh -46 Dilihat
oleh
Gelar Ramadhan Fest di Tengah Banjir Bakan, Warga Soroti Empati PT JRBM

Detotabuan.com,BOLMONG – Air mata warga Desa Bakan belum benar-benar kering setelah banjir bandang kembali menerjang wilayah mereka. Namun di tengah upaya pemulihan yang masih berlangsung, rencana Festival Ramadan (Ramadhan Fest) yang akan digelar PT J Resources Bolaang Mongondow justru memicu polemik di tengah masyarakat.

Alih-alih menghadirkan kegiatan yang berfokus pada pemulihan pascabencana, perusahaan tambang emas tersebut dikabarkan akan menggelar agenda yang dirangkaikan dengan hiburan live music. Rencana ini sontak menuai sorotan tajam dari warga, yang menilai suasana duka dan trauma belum sepenuhnya pulih.

Sejumlah warga menyampaikan kekecewaan mereka. Mereka menilai panggung hiburan terbuka tidak sejalan dengan kondisi psikologis masyarakat yang masih berjibaku membersihkan sisa lumpur dan memperbaiki rumah yang rusak akibat banjir.

Baca Juga :  Tokmas Modayag Dukung OD-SK

“Harusnya ada doa bersama atau kegiatan yang menunjukkan empati. Bukan hiburan seperti live music,” ujar beberapa warga dengan nada kecewa.

Banjir bandang yang terjadi pada Jumat (20/02/2026) memang bukan peristiwa pertama di wilayah tersebut. Namun, dampaknya kembali terasa signifikan. Sedikitnya 55 rumah warga terendam air bercampur lumpur, sementara akses jalan penghubung antar-desa sempat lumpuh total akibat genangan dan material banjir.

Peristiwa itu dipicu meluapnya Sungai Lolotut setelah hujan deras mengguyur kawasan tersebut. Namun bagi warga, faktor cuaca bukan satu-satunya penyebab. Dugaan keterkaitan aktivitas pertambangan emas di wilayah hulu kembali mencuat dan menjadi perbincangan hangat.

Masyarakat menyoroti dugaan penggundulan hutan di kawasan hulu yang dinilai telah menghilangkan fungsi alami resapan air. Tanpa vegetasi penyangga, air hujan disebut mengalir deras langsung ke permukiman, meningkatkan risiko banjir bandang setiap musim hujan tiba.

Baca Juga :  Warga Bakan Berebut Peluk SBM

“Kalau hutan masih utuh, air tidak akan langsung turun begitu cepat. Sekarang seperti tidak ada penahan,” kata seorang warga yang rumahnya terdampak banjir.

Situasi ini membuat kritik masyarakat mengerucut pada dua hal utama. Pertama, soal tanggung jawab lingkungan. Warga menilai aktivitas industri yang beroperasi di wilayah hulu semestinya disertai pengelolaan dampak ekologis yang lebih serius dan transparan.

Kedua, soal etika sosial. Masyarakat menilai penting bagi perusahaan untuk membaca situasi emosional warga yang masih trauma. Agenda hiburan di tengah masa pemulihan dianggap berpotensi melukai perasaan korban bencana.

Sebagian warga berharap perusahaan meninjau ulang rencana kegiatan tersebut. Mereka menginginkan pendekatan yang lebih humanis, seperti bantuan pemulihan, rehabilitasi lingkungan, atau kegiatan spiritual yang dapat memperkuat solidaritas sosial.

Baca Juga :  PT. JRBM Bantu Pengembangan Pariwisata Bolsel

Hingga kini, polemik rencana Ramadhan Fest masih menjadi perbincangan hangat. Di satu sisi, masyarakat ingin bangkit dari bencana. Namun di sisi lain, mereka berharap proses pemulihan dilakukan dengan empati, bukan sekadar seremoni. Bagi warga, yang paling dibutuhkan saat ini bukan hiburan, melainkan kepedulian nyata.

(Tio)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

No More Posts Available.

No more pages to load.